TERNATE – Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha, kawasan pekuburan cina di Kelurahan Santiong, Kecamatan Ternate Tengah, kembali menjadi lokasi transaksi jual beli hewan qurban, baik sapi maupun kambing.
Kawasan tersebut dikenal sebagai tempat pemakaman bagi warga keturunan Tionghoa yang beragama Konghucu. Namun, tempat yang dikelola Yayasan Cahaya Bhakti ini telah lama dijadikan lokasi langganan perdagangan hewan qurban setiap kali mendekati hari raya besar umat Islam tersebut.
Ketua Solidaritas Pemuda Merah Putih Maluku Utara, Mudasir Ishak kepada habartimur.com, Rabu (20/5/2026) menyampaikan keprihatinannya atas kondisi tersebut.
Dia meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate segera menertibkan aktivitas perdagangan di kawasan pemakaman itu dengan tetap menjunjung tinggi nilai etika dan rasa hormat antarumat beragama.
“Sebagai warga Kota Ternate yang menjunjung tinggi adat istiadat, tentu kita mengedepankan etika, rasa hormat, dan saling menghargai antar sesama umat beragama yang sudah hidup berdampingan cukup lama di kota ini,” ujar Mudasir.
Mudasir menegaskan, bagi agama apa pun, pekuburan merupakan kawasan sakral yang penuh penghormatan bagi keluarga yang ditinggalkan maupun mereka yang meninggal dunia.
“Jangan kita sesuka hati berbuat sesuatu tanpa mempertimbangkan perasaan mereka. Padahal, tempat pemakaman itu adalah tempat yang dihormati bagi setiap keluarga yang memiliki kerabat yang dimakamkan di sana,” tegasnya.
Mudasir memahami momentum Idul Adha menjadi waktu yang tepat.memasarkan peternak. Namun, menurutnya, aktivitas perdagangan tidak boleh dilakukan secara liar, tidak tertata, dan apalagi sampai menempati atau berjualan di atas area makam warga Tionghoa.
“Saya mengerti momentum Idul Adha adalah momen mendagangkan peternak sapi dan kambing. Tapi, caranya jangan secara liar dan tidak tertata seperti ini, apalagi sampai berjualan di atas kubur saudara-saudara Tionghoa kita,” tandasnya.
Mudasir berharap Pemkot Ternate dapat mengambil langkah bijak, baik secara moral maupun teknis, dengan mencari solusi lokasi alternatif yang layak. Hal ini dilakukan agar para pedagang tetap bisa bertransaksi tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Yayasan Cahaya Bhakti dan warga keturunan Tionghoa yang ada di Kota Ternate.
“Saya berharap Pemkot Ternate bersikap bijak secara moral dan mencari solusi lokasi lain bagi masyarakat yang berjualan hewan qurban, sehingga tidak mengurangi rasa hormat kepada Yayasan Cahaya Bhakti dan warga Tionghoa di Kota Ternate,” pungkasnya. (wat)










