Lampaui Rata-rata Nasional, Kadikbud Malut Apresiasi Capaian Indeks Kebhinekaan Sekolah


TERNATE – Hasil indeks kebhinekaan sekolah jenjang SMA, SMK dan SLB, Maluku Utara (Malut) mendapat kategori hijau. Merujuk pada hasil asesmen nasional 2025, hasil tersebut menempatkan Maluku Utara karena melampaui rata-rata nasional.

Capaian ini mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara (Malut), Abubakar Abdullah. Menurutnya, capaian tersebut merupakan prestasi penting yang harus dipertahankan dan ditingkatkan secara berkelanjutan agar kepercayaan masyarakat terhadap sekolah semakin tinggi.

“Kami berharap hasil Rapor Pendidikan ini benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan,” katanya.“Ini sangat menggembirakan. Kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari aspek akademik, tetapi juga dari pembentukan karakter. Capaian ini menandai keberhasilan sekolah dalam membangun nilai-nilai Kebhinekaan,” ujar Abubakar Abdullah, Rabu (2/3/2026).

Sehari sebelumnya, Abubakar didampingi Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Sofyan, melakukan monitoring awal pembelajaran di SMA Negeri 4 Ternate. Dia menerima laporan Rapor Pendidikan SMA Negeri 4 Ternate yang menunjukkan sejumlah indikator penting berada pada kategori “hijau”, seperti literasi, numerasi, kualitas pembelajaran, iklim inklusivitas, hingga indeks kebhinekaan.

Meski demikian, Abubakar mengingatkan masih ada beberapa aspek yang perlu dibenahi, di antaranya fasilitas penerangan ruang belajar, kebersihan toilet, serta pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.

“Kami menitipkan kepada seluruh sekolah agar terus mendorong tumbuhnya ekosistem kebhinekaan, tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di masyarakat,” ujarnya.

Dia menekankan peran guru dan siswa sebagai teladan dalam membangun toleransi dan relasi sosial yang inklusif. Menurutnya, praktik kehidupan harmonis di sekolah harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.

“Waktu di sekolah hanya sekitar enam hingga tujuh jam. Karena itu, nilai-nilai kebhinekaan harus terus dihidupkan di masyarakat. Guru dan siswa harus menjadi garda terdepan dalam membangun ekosistem tersebut,” kata Abubakar.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kata Aka akan terus melakukan monitoring dan pengawasan guna memastikan pembentukan karakter berbasis kebhinekaan menjadi bagian integral dari sistem pendidikan sekaligus kehidupan sosial masyarakat. (wat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Teras Berita