PUKUL 10.30 WIT, roda pesawat Lion Air JT 896 menyentuh landasan Bandara Babullah.
Saat pintu pesawat terbuka, bukan hanya jenazah H. Burhan Abdurahman yang dibawa turun, melainkan pula kerinduan yang tersimpan rapat selama lima tahun lamanya.
Di masa pandemi COVID-19 yang penuh pembatasan itu, saat nyawa melayang dan jarak menjadi tembok pemisah, almarhum harus dimakamkan sementara di kuburan Macanda, jauh di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), jauh dari tanah yang ia cintai, tanah tempat ia lahir, tumbuh, dan mengabdikan seluruh hidupnya.
Hari ini (12/5/2026), perjalanan panjang itu berakhir. Jenazah beliau akhirnya pulang, dan seketika itu pula, seluruh Kota Ternate seolah ikut menunduk, merasakan duka yang mendalam, namun juga kelegaan yang panjang ditunggu.
Dari bandara, jenazah dibawa menuju Kantor Wali Kota. Di sana, upacara pelepasan resmi digelar dalam suasana yang hening dan penuh haru.
Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman berdiri di barisan terdepan, suaranya bergetar saat menyampaikan sambutan perpisahan. Di hadapan keluarga besar, unsur Forkopimda, pejabat daerah, dan ratusan warga yang memadati halaman kantor pemerintahan, Tauhid berbicara bukan hanya sebagai pemimpin daerah, tapi sebagai warga Ternate yang turut merasakan kehilangan besar ini.
“Semoga almarhum ditempatkan di sisi Allah SWT, karena beliau telah berjasa besar membangun Kota Ternate selama dua periode masa jabatan,” ucap Tauhid, kalimat yang diulang-ulang dalam doa dan hati setiap orang yang hadir.
Bagi Tauhid dan semua warga, walikota yang akrab disapa Haji Bur itu, bukan sekadar mantan pemimpin. Ia adalah arsitek perubahan. Sosok yang membawa visi “Bahari Berkesan”, menjadikan kekayaan laut sebagai nafas pembangunan kota ini, serta pencetus program Barifola yang hingga kini masih dikenang sebagai langkah nyata untuk merangkul dan prosperasikan (memakmurkan) masyarakat.
Jejak karyanya terukir di jalanan yang mulus, fasilitas yang berdiri kokoh, wajah kota yang berubah menjadi lebih indah dan berdaya saing, semua itu adalah warisan abadi yang kini menjadi saksi bisu kebesaran jiwanya.
Saat jenazah kembali dibawa ke mobil pengantar dan meninggalkan halaman kantor pemerintah, pemandangan yang menyayat hati mulai terbentang luas. Ribuan warga dari berbagai kalangan tua, muda, pedagang, guru, tokoh agama, hingga mereka yang tak pernah bertatap muka langsung dengannya telah berjejer rapi di sepanjang jalan utama di balai kota.
Suasana begitu sunyi. Tak ada suara musik, tak ada teriakan, tak ada keramaian. Yang terdengar hanya isak tangis yang tertahan, doa-doa lirih yang terucap, dan langkah kaki ribuan warga yang menyatu dalam satu tujuan: mengantar Haji Bur ke peristirahatan terakhirnya. Udara pagi yang sejuk terasa berat, seolah langit pun ikut berduka atas kepergian sosok yang begitu dicintai ini.
Iring-iringan perlahan bergerak menuju Kelurahan Moya, tempat kediaman almarhum, tempat di mana ia membangun rumah tangga, tempat di mana ia pernah tertawa, berdiskusi, dan merencanakan masa depan Ternate.
Di rumah duka itu, suasana duka mencapai puncaknya. Keluarga besar berdesakan di samping jenazah, menyentuh peti yang berisi jasad yang telah lima tahun terpisah dari pelukan mereka.
Tangis kerabat, semuanya bercampur menjadi satu — rindu yang meledak setelah lama tertahan. Di sini, mereka mendoakan, berbisikkan pesan terakhir, dan melepaskan kepergiannya dengan penuh keikhlasan yang pahit namun menyadarkan: tugas beliau di dunia telah selesai.
Setelah waktu yang cukup lama di rumah duka, jenazah kembali dibawa melanjutkan perjalanan terakhirnya. Kali ini menuju Tempat Pemakaman Islam, Kelurahan Santiong, Kecamatan Ternate Tengah. Jarak yang tak terlalu jauh, namun rasanya begitu panjang karena setiap langkah diisi oleh kenangan, doa, dan rasa terima kasih yang tak terucap.
Di sepanjang jalan menuju pemakaman, jumlah warga yang ikut mengantar justru semakin bertambah, seolah seluruh penduduk kota ingin hadir untuk memberi penghormatan terakhir.
Sesampainya di lokasi pemakaman, suasana menjadi semakin hening. Di bawah naungan pepohonan dan langit Ternate yang cerah namun terasa mendung oleh perasaan, jenazah H. Burhan Abdurahman diturunkan dari kendaraan.
Diiringi doa para ulama dan tokoh agama, jenazah dibawa mendekat ke liang lahat yang telah disiapkan — tanah merah Ternate yang akhirnya akan memeluk raga pemimpin ini selamanya.
Saat jenazah perlahan diturunkan ke dalam tanah, tangis pecah berkali-kali. Banyak warga yang tak kuasa menahan emosi, memeluk satu sama lain, saling menguatkan di tengah rasa kehilangan yang begitu besar.

Wali Kota Tauhid, para pejabat, dan kerabat dekat turut serta dalam prosesi pemakaman, mengisi liang lahat dengan tanah, tanda terakhir bahwa kini beliau telah benar-benar pulang, benar-benar beristirahat di tempat yang paling damai.
Lima tahun yang lalu, saat pandemi melanda, pemakaman sementara di Jeneponto berlangsung sepi, terbatas, jauh dari keluarga dan rakyatnya. Hari ini, pemakaman kedua — pemakaman yang sesungguhnya — berlangsung megah dalam kesederhanaan, dihadiri ribuan jiwa yang mencintainya, diiringi doa yang bergema memenuhi langit Ternate.
Perpisahan yang tertunda selama lima tahun akhirnya tuntas. Rindu yang lama mengendap akhirnya terbayar lunas. Kini, H. Burhan Abdurahman telah berbaring tenang di Kelurahan Santiong, berdampingan dengan tanah kelahirannya, di tengah orang-orang yang ia layani dengan sepenuh hati, di samping jejak-jejak pembangunan yang akan terus berdiri kokoh menjadi bukti pengabdiannya.
Raga beliau telah kembali ke bumi, namun nama, karya, dan semangatnya akan terus hidup di setiap sudut Kota Ternate, di dalam ingatan setiap warga, dan dalam sejarah panjang kota bahari ini.
Selamat jalan, Haji Bur. Akhirnya engkau pulang. Akhirnya engkau beristirahat dengan damai di sisi Allah SWT, dan di hati kami semua yang tak akan pernah melupakan jasa dan kasih sayangmu kepada tanah ini.
Turut hadir pada upacara pelepasan jenazah itu, wakil walikota Nasri Abubakar, Sultan Tidore Husain Alting Syah, Sekot Ternate Rizal Marsaoly dan forkopimda lainnya. (wat)










