TERNATE – Sore itu, Rabu (22/4/2026) lembaga DPRD Kota (Dekot) Ternate yang berdiri megah di Kalumata puncak, serentak menjadi sorotan publik.
Bukan prestasi yang ditonjolkan para wakil rakyat, melainkan sebuah insiden tak biasanya, yang membuat mulut dan mata anggota Dekot menganga, yakni reaksi anggota Dekot dari fraksi Gerindra Nurjaya Hi. Ibrahim mengamuk menjelang paripurna internal.
Nurjaya diketahui mengamuk dalam ruang sidang paripurna setelah mendapat kata-kata tak etis dari koleganya Nurlela Syarif dari fraksi NasDem.
Nurjaya sendiri dikenal sebagai salah satu wakil rakyat yang selalu berada di garda terdepan ketika menerima keluhan masyarakat. Karakter politiknya yang keras dan tanpa kompromi membuat dirinya kerap “dibully” oleh legislator yang suka “tadah tangan”.
Peristiwa ini merupakan akumulasi dari beberapa kepekaan isu publik yang menjadi perhatian Nurjaya, mulai dari pengawasan distribusi minyak tanah bersubsidi, aktivitas galian C, hingga sorotan terhadap dugaan pelanggaran pembangunan Villa Logo Montana. Semuanya menjadi bagian dari sikap kritis dan konsistensinya selama menjabat.
Sejak awal 2025, Nurjaya aktif melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah titik distribusi minyak tanah bersubsidi dianggap bermasalah yang merugikan masyarakat kecil. Tidak berhenti di situ, dia juga mengangkat isu aktivitas galian C ilegal yang diduga berlangsung tanpa pengawasan ketat.
Konflik semakin memuncak ketika Nurjaya secara terbuka mengungkap dugaan pelanggaran tata ruang dalam pembangunan Villa Logo Montana di Kelurahan Ngade. Dia bahkan menyebut adanya indikasi keterlibatan sejumlah pihak yang mengamankan pembangunan villa montana di zona sempadan itu.
Sikap kritis Nurjaya ini justru dinilai sebagai upaya “membuka aib” lembaga DPRD Kota Ternate, sehingga berkali-kali diadukan ke Badan Kehormatan (BK) DPRD Kota Ternate masalah etik.
Terkini, tekanan terhadap Nurjaya belum mereda. Dia kembali dilaporkan ke BK dengan tudingan menyebarkan fitnah terkait dugaan suap yang berkaitan dengan pembangunan Villa Logo Montana. Tudingan ini mempertegas eskalasi konflik yang kian terbuka di internal DPRD.
Insiden pengusiran di ruang sidang menjadi kondisi paling nyata dari retaknya hubungan antar anggota dewan. Ruang yang semestinya menjadi arena adu gagasan berubah menjadi panggung konfrontasi.
Kisruh ini menjadi ujian serius bagi integritas DPRD Kota Ternate. Lebih dari sekadar konflik internal, peristiwa ini mencerminkan pertaruhan besar: apakah suara kritis masih memiliki ruang di parlemen, atau justru hilang karena menjadi minoritas. (wat)










