TERNATE – Sebuah video banjir di malam salat tarawih pertama bulan ramadan 1447 hijriah di kelurahan Tafraka, Kecamatan Pulau Hiri, Kota Ternate, Maluku Utara mendadak viral.
Video berdurasi 01.11 menit itu memperlihatkan kondisi musala yang digenangi air sampai lutut orang dewasa. Sementara di jalan, dipenuhi dengan material lumpur dan batu.
Mirisnya, genangan air itu membuat para jamaah yang tengah khusyuk melaksanakan salat tarawih, lari berhamburan menyelamatkan diri karena luapan air bercampur material batu masuk hingga halaman musala.
Saat dihubungi media habartimur.com, Rabu (18/2/2026) malam, warga Tafraka Iswan Ismail membenarkan bahwa banjir itu terjadi di kelurahan Tafraka. Peristiwa banjir itu, berlangsung sangat cepat air masuk di halaman musala saat jemaah sedang melaksanakan salat dan hanya menyisakan empat rakaat terakhir.
“Semua imam dan jemaah lompat jendela, semua lari karena banjir, air masuk di musala,” ungkap Iswan. Dia menduga sumber air itu dari embung yang dibangun oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara pada tahun 2024.

Dia mengatakan, sejak awal sudah pesimis dengan proyek dengan nilai fantastis Rp 13,5 miliar ini karena tidak ada manfaat bagi masyarakat, dan sekarang terjawab bahwa justru menjadi sumber masalah.
Sebelum embung ini dibangun, kata Iswan, Kelurahan Tafraka tidak pernah dilanda banjir. Namun kini, warga selalu diliputi rasa was-was setiap kali hujan karena air sering meluap membawa material lumpur dan batu.
“Masyarakat trauma karena pada 14 Januari 2026 lalu, pernah banjir serupa yang membuat 9 rumah warga rusak diterjang material batuan,” bebernya. Dia menduga, ada yang salah dengan keberadaan embung tersebut.
“Sampai saat ini masyarakat tidak merasakan manfaat dari keberadaan embung itu, air bersih yang dijanjikan tidak pernah ada,” jelasnya. Untuk itu, dia mendesak aparat penegak hukum untuk segera menyelidiki embung dari BWS tersebut. “Kami harap Polda atau Kejati bisa mengusut masalah embung ini,” pungkasnya. (wat)









